Kasim : Sukses Bersama Sorabi Hijau

Rengasdengklok (KarIn) – Lahir pada 1956, karena masalah biaya M. Kasim muda berhenti sekolah ketika baru menginjak kelas 3 SD. Selanjutnya Ia pergi ke Manggarai Jakarta menjadi tukang karcis parkir, pernah juga lima tahun bekerja di Pasar Baru Bekasi. Kemudian, sekembalinya ke Rengasdengklok (Dengklok) berbagai jenis usaha pun pernah Ia kerjakan, dari berjualan ikan basah, ikan asin, buah-buahan, rokok asongan, mie ayam, nasi goreng, bubur, ketupat dan berbagai usaha kecil lainnya. Namun nasib pria yang menikah pada umur 17 ini tidak kunjung sukses. Hidup sangat pas-pasan, gagal diberbagai jenis usaha namun bukannya menyerah tampaknya kegagalan demi kegagalan membuatnya semakin kuat.
Pengalaman adalah guru yang paling bijak dan kegagalan merupakan ilmu yang berharga. Harga yang harus ditebus dengan kesabaran dan kerja keras tentunya. Itulah yang kemudian mengantarkan Kasim ditahun 1995 ketika umurnya beranjak tua, berjodoh dengan usaha yang mengantarkannya kini untuk bisa mengenang masa-masa suramnya dengan tersenyum. Usaha dan jodoh itu adalah Sorabi Hijau (Serabi Ijo).
“Dulu di Dengklok bapak kayak sampah, istilahnya orang nggak punya, dicuekin dan nggak dihargain sama orang. Tapi, semenjak punya usaha ini Alhamdullilah keangkat harkat derajat bapak. Pokoknya mah sekarang se Dengklok mah bukannya bapak sombong, sekarang mah udah pada kenal sama bapak,” ungkap Kasim pada KarIn yang ditemui di rumah sekaligus tempat jualannya di Jl. Raya Kalijaya, Rengasdengklok Karawang ini sebelum bulan puasa.
Sorabi hijau yang kini merupakan makanan khas Rengasdengklok dan Karawang inilah yang menjadi jalan yang diberikan Tuhan untuk merubah kondisi hidup Kasim, istri dan keenam anaknya. Kisahnya, berawal ketika Ia berjualan ketupat di depan toko seorang keturunan China di Dengklok yang gemar membuat serabi (namun bukan untuk dijual), dari sinilah Kasim yang selalu kebagian untuk menikmatinya, akhirnya karena juga sudah akrab ikut pun belajar resepnya dari pemilik toko tersebut.
Di tahun 1995, Kasim mulai berjualan sorabi hijau dengan dorongan atau gerobaknya yang sederhana. “Rencananya mau ke pasar pake dorongan. Berhubung mungkin nasib bapak sudah ditentukan begitu, sebelum nyampe ke pasar sudah banyak yang beli, orang Cina juga ada, satu orang dua rangkap, yang beli dia lagi dia lagi, hari kemudian bawa temannya begitu seterusnya,” tutur Kasim mengisahkan masa-masa awal usaha sorabinya ini. Kasim mengungkapkan bahwa modal awal untuk memulai usahanya ini adalah sebesar 370 ribu rupiah yang Ia dapat dari meminjam.
“Ya, karena mungkin nasib bapak kayak gitu, jadi nggak pernah sampai ke pasar teh, sampai bikin tenda di makam (depan rumahnya kini) pada tahun kedua (1996), dan cuma satu tempat berisi empat cetakan. Sekarang mah sudah lima tempat,” tuturnya sekaligus menjelaskan kemajuan cepat dari usahanya ini. Lokasi jualan di depan makam itulah yang akhirnya membuat Sorabi Hijau ini disebut juga dengan nama Sorabi Kuntilanak.
Dari hari, bulan dan tahun ke tahun usahanya ini terus meningkat, berkat rasanya yang khas apalagi Sorabi Hijau terbilang langka untuk saat itu (karena biasanya sorabi identik dengan warna putih). Hingga, pada tahun 2002 setelah berhasil membeli tanah yang terletak di depan makam tersebut, Ia pun mengembangkan usahanya itu hingga sekarang. Ia mengungkapkan seharinya bisa menghasilkan omset sebesar 3-4 juta rupiah. Jumlah yang pantas untuk membayar kesabaran dan kerja kerasnya selama ini.
Menjaga Resep dan Menyikapi Para Penguntit
Hidup Baru, itulah motto usaha Kasim dengan Produknya yang Ia namai Sorabi Hijau Asli Daun Suji ini, seperti yang tampak pada plang di depan warungnya kini. Sebuah motto yang baginya memiliki makna tersendiri. “Hidup baru. Hidup baru ya baru terus soalnya sorabinya baru terus tiap harinya, kan nyetak terus tiap hari abis, kalau kue yang lain mah sampai dua tiga hari,” tutur Kasim yang tampak ramah ketika berbincang dengan KarIn.Diumurnya yang 56 tahun ini, Kasim tampak menikmati buah kerja kerasnya selama ini yang dapat menghidupi anak dan istrinya. Anak-anaknya ini juga yang kini membantunya mengelola usaha ini. Sedangkan Kasim sendiri, kini kerjanya hanya mengontrol terutama agar kualitas sorabinya tetap terjaga. “Ini yang kerja anak mantu semua, tidak memperkerjakan orang lain karena untuk menjaga resep,” jelasnya.
Resep itulah yang sangat Ia jaga. Ia menuturkan bahwa banyak yang berusaha untuk membeli resep sorabinya itu. Bahkan sempat ada juga mau menukarnya dengan sebuah mobil dan ada juga pengusaha cina yang mau mengajaknya ke Beijing asalkan Ia mau membagi resepnya itu. Namun bukannya tergiur, Kasim dengan tegas menolaknya.
“Jangan terpengaruh uang puluhan atau ratusan juta. Ratusan juta mah kita juga satu tahun dua tahun juga bisa dapat. Yang dipikirkan jangka panjangnya, jangan jangka pendek,” tutur Kasim menirukan pesan yang juga Ia sampaikan pada anak-anaknya. Alhasil, tanpa menjual resepnya, kini usahanya tetap sukses dan Ia pun sudah memiliki dua buah mobil.
“Jangankan sorabi, obat-obatan saja banyak ditiru, apalagi sorabi yang bahannya kasar. Sorabi bapak mah sudah disejarahin di Bandung, langsung dari Bandung dari sejarah makanan, kesenian. Jadi, jangan sampai kayak Reog Ponorogo diaku sama Malaysia,” paparnya.
Lalu mengenai banyaknya penjual-penjual sorabi hijau ditempat lain yang bahkan ada juga yang menamakan diri sebagai Sorabi Hijau Cabang Rengasdengklok, dengan sambil tersenyum Kasim mejnawab bahwa peniruan itu memang benar adanya. Banyak yang menirunya bahkan mencoba mendompleng namanya. Ia pun mendapatkan informasi itu kebanyakan dari para pelanggannya yang menanyakan apakah Kasim memang membuka cabang ditempat lain.
Kasim menegaskan bahwa Ia tidak pernah dan tidak berkeinginan untuk membuka cabang, dengan alasan karena khawatir akan mengurangi kualitas sorabinya, apalagi ketika pengelolaanya diserahkan kepada orang lain. Pesannya, bagi mereka yang mau beli dan menikmati sorabi hijau silahkan pesan atau datang langsung ke tempatnya. Sebuah konsep yang membuat Sorabi Hijau semakin menguat menjadi makanan khas Rengasdengklok dan Karawang secara umum.
Mengenai para pendompleng usahanya itu, Kasim mengatakan, “Silahkan saja, buat apa kita negor. Sampai ada yang menyarankan bawa ke pengadilan, nanti kita yang babak beluk, dia mah cuma jadi pesakitan, kita yang keluar duit. Cuma kalau ngaku cabang, harusnya ngerasa malu soalnya Sorabi Ijo Dengklok ini nggak buka cabang,” tegasnya sambil menunjuk plang di depan rumah dan warungnya yang tetulis juga keterangan tidak buka cabang itu.
Itulah sosok Kasim, pengusaha sukses dari Rengasdengklok Karawang. Kesuksesan yang dicapai dengan kerja kerasnya. Sebuah perjalanan yang luar biasa dan pantas dijadikan inspirasi bagi warga lainnya. Kisahnya yang luar biasa itu pula yang membuat KarIn tidak punya alasan untuk tidak menempatkannya di Rubrik Inspirasi Warga ini. Dan berikut adalah pesannya kepada warga Karawang khususnya anak muda yang mau memulai usaha : “Saya berpesan kepada khususnya anak muda, jangan putus asa kalau ada kegagalan.. terus.. terus dicoba aja. Soalnya apa, jaman sekarang kalau nggak ada kerajinan dan nggak ada kesabaran, aduh gagal. Pokoknya hayuh weh terus. Namanya mau usaha mah, namanya pedangang kalau gagal ya coba lagi,” ujarnya.
Sedangkan untuk mereka yang sudah menjalankan usaha, Kasim pun berpesan sekaligus membeberkan resep usahanya (bukan resep sorabinya) : “Kalau orang bukan pengusaha, kalau ada kenaikan barang ini itu bahan jadi dikurangi (kualitasnya), kalau bapak enggak, daripada dikurangin mendingan ditambah, soal harga mah belakangan. Namanya makanan nggak ada yang nawar kalau enak mah. Mendingan harga dinaikin daripada kualitas diturunin mah,” paparnya yang kini hanya ingin menikmati masa tuanya tanpa berpikir macam-macam ini.Kini Kasim memang tinggal menikmati buah jerih payahnya, dengan mempertahankan resep dan konsistensinya, minimal kini Ia bisa membuka jalan bagi anak-anaknya dan bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Walaupun keenam anaknya ini tidak berhasil Ia sekolahkan dengan tinggi (semuanya hanya lulus SD), setidaknya secara tidak langsung kini Ia membayarnya dengan tidak mau agar mereka mengalami kesusahan seperti yang Ia alami dulu.

0 Comment:
Post a Comment